A Confession of Me

A Confession of Me

Tuhan, apa yang kini ingin kusampaikan hanyalah sekelumit rasa seorang wanita. Mungkin Kau bisa sebut itu hanya naluri. Tapi aku pun tidak berhalusinasi akan rasa ini. Pengalihan rasa sudah berulang kali ku lakukan. Ya Tuhan, aku pun mengerti batasan aku. Aku pun memahami ketidakberdayaan aku. Tak pernah terlintas dari pikiran ini untuk menciptakan hidup sesuai dengan keinginan ku sepenuhnya, Aku memang berangan angan. Aku memang terkadang bermimpi tentang keinginan yang ingin kuwujudkan agar menjadi nyata. Tapi Aku harus kembali bangun dan tersadar, bahwa pelajaran hidup aku berada pada titik itu. Titik dimana aku harus bisa menerima segala hal yang terjadi disekeliling ini. 

Apa yang bisa kudapat Tuhan. Ketika lisan ku pun teradang tak bisa kukendalikan. Ketika jiwa ini pun terkadang sulit untuk kugapai. Ketika pikiran ini pun tak dapat ku pahami dan mengerti. Aku tidak mendapakan apa-apa Tuhan. Hanya nol besar. Hanya rasa bimbang yang tak berasalan. Selalu mencari pelarian atas setiap hal yang tak dapat ku mengerti dan kuterima tanpa mencoba untuk mendapakan jawaban yang pasti. 

Aku menjadi sosok yang terlalu banyak bicara. Aku menjadi sosok yang terlalu banyak berprasangkan. Aku menjadi sosok yang tak kenal dengan siapa diriku. Malu rasanya hati ini Tuhan. Selalu berbuat tanpa pernah berpikir panjang. Menyakiti orang lain yang bahkan sebenarnya diriku sendirilah orang yang paling tersakiti ketika aku menyakiti orang-orang disekeliling ini. Kenapa diri ini hanya bisa menyesal ketika ucapan dan kata-kata sudah terlontar keluar dari bibir ini. Ketika memandang raut wajah orang-orang yang kuanggap lawan bicara, aku tahu banyak orang yang mungkin merasakan keterkejutan dan ketersinggungan. Mungkin ada yang salah dengan ucapkan yang ku lontarkan. Mungkin pula adan yang salah dengan isi dan kata-kata yang ku ucapkan. Tuhan, aku mengerti tak semua orang dapat memahami dan menangkap maksud baik hati ini. 

Jelas sudahkan ketidakmampuan diri ini untuk dapat mengerti dan menyampaikan. Mungkin aku harus belajar lebih banyak lagi tentang pelajaran-pelajaran hidup bagaimana untuk bisa lebih membuat diriku bisa menjadi sosok yang lebih luwes dan tahu diri. Agar aku tak selalu terlibat konflik dengan hati ini dan juga hati orang-orang disekelilingku. Ya Tuhan, ternyata hidup memang tak bisa untuk disepelekan. Tapi sungguh dilematis ketika nilai-nilai dan makna yang terselip tidak selalu dapat kutangkap. Mungkin ini lah memang kelemahan dari diri ini yang kurang peka untuk menyadari dan menarik intisari dari hidup. 

-RM-

No comments:

Post a Comment