Sekelumit diri yang belum dapat kupahami. Belum dapat kuselami. Belum dapat kujejaki. Jiwa ini siapa. Mengapa masih belum bisa kukenali. Mengapa masih belum bisa kupahami. Mengapa masih belum bisa kuraih. Ketidak jelasan dan ketidakpahaman akan sosok diri ini sungguh membuat diri ini semakin tidak paham akan segala makna dan hakikat yang dijalani. Lantas siapa diriku, yang bahkan selalu berubah-ubah tanpa memliki kekuatan diri.
Wahai jiwaku, ingin rasanya ku bisa memelukmu, ingin ku bisa melihat bentukmu dalam cermin untuk mengatakan betapa ku amat sangat menyayangimu. Betapa ku ingin sekali melihatmu dan menemuimu. Betapa rasanya ingin sekali ku mampu berbicara dengan mu untuk mengenalmu lebih dekat agar ku dapat meraihmu. Bagaimana harus ku kenali dirimu, sungguh ku tak paham.
Rasanya ingin ku berkata padamu wahai sang jiwa, bahwa raga ini ingin sekali menyatu denganmu. Bahwa raga ini ingin sekali bisa harmonis denganmu. Ingin sekali rasa nya jika raga ini bisa selalu digerakkan olehmu, diatur olehmu. Ingin sekali rasanya ku bertanya kepada mu jiwa, apa yang raga suka? . Apa yang raga inginkan? . Dan ingin sekali aku bertanya padamu raga, kenapa sang jiwa bersedih? Kenapa sang jiwa menangis? Dan kenapa sang jiwa merasa tak tenang?
Ku ingin meraih kalian berdua. Ku ingin mempersatukan kalian berdua. Ku ingin kalian berdua hidup dengan saling mengenal satu sama lainnya dalam satu kesatuan tubuhku. Ku ingin ragaku paham ketika air mata jatuh bahwa jiwanya sedang bersedih. Ku ingin jiwaku paham bahwa ketika raganya merasakan sakit dianggota tubuhnya itu adalah karena raga sedang terluka. Ku ingin kalian berdua saling memahami. Ku ingin kalian berdua selalu bersama beringingan. Jangan kalian saling menjauh. Jangan kalian saling acuh. Kalian adalah aku. Aku adalah kalian. Dan kita adalah satu kesatuan. Saling memahami. Saling mengisi. Saling…. Jiwa, aku hanya bisa “merasakanmu”, dalam “raga”. Dan “raga”, aku bisa “melihatmu”, dalam “jiwa”.
Ini hanya sebatas tulisan akan seseorang yang begitu merindukan akan kedamaian akan dua hal dalam hidupnya. Menginkan dirinya untuk menemukan jawaban atas siapa dirinya. Menemukan jawaban atas mengapa dirinya ada dan diciptakan. Dan menemukan jawaban untuk bisa mengenal lebih dalam mengenai kehidupannya.
Jiwa dan raga memang saling berkaitan. Mereka akan hidup selalu dan terus saling berdampingan. Mereka selalu ada satu sama lain untuk saling melengkapi dan memberikan pemahaman-pemahaman akan kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia. Yang terpenting memang bukanlah hanya penyatuannya. Tapi bagaimana proses nya mereka bersatu. Bagaimana proses mereka untuk bisa memahami dan mengenali satu sama lain hingga akhirnya akan muncul jawaban yang selalu ditanyakan, tentang jati diri dan hakikat mereka yang sebenarnya sebagai seorang manusia.
Regards -RM-
No comments:
Post a Comment