Lepaskanlah hidup

Lepaskanlah hidup kita. 

Jalankanlah apa yang memang sudah seharusnya dan menjadi bagian dalam hidup kita. Terkadang memang sulit untuk melepas hidup, karena diri kita telah membuat aturan-aturan sendiri yang telah kita tanamkan dan terapkan dalam diri kita untuk menjalankan hidup kita. Setiap orang begitu senang mengkerucutkan diri nya daripada sekedar membuka lebar dirinya untuk merasakan lebih hidup. Alasannya, sudah pasti karena mereka sudah punya pakem-pakem dan pemikiran mereka sendiri untuk menjalankan hidupnya yang membuat mereka hidup dengan pola yang cukup mereka buat sendiri. 

Lepas itu bagaikan tanpa ikatan. Lepas itu bagaikan kita menjalankan segala sesuatunya dengan membebaskan diri kita untuk menjalankannya tanpa ada rasa beban, tanpa ada rasa keberatan, tanpa ada tekanan. Memang begitulah seharusnya hidup. Kita tidak bisa membebani hidup kita dengan hal-hal yang berlebihan yang akan membuat diri kita menjadi tertekan, terbenani, atau menjadi manusia dengan banyak pikiran didalamnya. 

Mengapa kita harus memikirkan hal-hal yang memang bukan dalam porsi untuk kita pikirkan. Bukankah segala sesuatunya sudah ada “pak” nya masing-masing ? jangan pernah desak mata untuk melihat dalam kegelapan karena sudah pasti penglihatan tidak akan jelas. Jangan paksa pula telinga untuk mendengarkan dengan jelas di tengah suara bising yang memecah, atau jangan pula kita paksa kulit kita untuk meraba benda-benda panas yang jika kita paksakan justru akan menyakiti kulit kita dan membuatnya melepuh. Lakukan lah apapun sesuai kadarnya, sesuai kondisi nya dan memang sesuai dengan jalurnya. 

Bagi saya dengan hidup lepas, kita akan hidup menjadi rasional dan realitas. Hmmm, realistis maksudnya, karena kalau kita memaksa mata untuk mendengar, atau telinga untuk melihat, bukanlah itu artinya kita menjadi orang yang tidak realistis. Yang akhirnya justru tidak memahami dan menjadi sosok yang tidak bisa berpikiran jernih untuk menghasilkan hal-hal yang positif. 

Intinya adalah bagaimana kita bisa menjalani kehidupan kita dengan penuh kebebasan untuk menyikapi, dengan tidak membebani diri kita, dengan penuh keleleuasaan untuk diri kita, sesuai dengan porsinya dan fungsi nya masing-masing dan tentu saja harus dengan penuh tanggung jawab dan juga tidak asal-asalan dan menyikapi segala sesuatu nya. 

Jangan hanya mengkerucutkan diri kita pada satu hal saja. Kembangkanlah diri kita untuk meraih banyak hal. Bukalah diri dan hidup kita selapang-lapangnya untuk tetap terus mengejar dan meraih apa yang memang pantas untuk kita dalam hidup. Kejar mimpi kita, kejar harapan kita. Buka lebar-lebar telinga kita untuk banyak mendengar segala macam suara yang ada dalam kehidupan. Ketika kita banyak mendengar, sudah pasti kita akan belajar mengenali karakter dari suara manusia, yang berarti mebuat kita semakin lebih peka untuk mendengar. Begitu juga buka lebar-lebar pikiran kita untuk tetap belajar dan mendapatkan banyak hal-hal baru yang bermanfaat untuk hidup kita. Hal-hal yang kita dapat dari membuka dan melepaskan diri kita itulah yang akan menjadi jembatan diri kita untuk meraih mimpi kita, untuk mengejar cita-cita kita, dan untuk meraih tujuan hidup kita. Marilah kita belajar menjadi pribadi yang positif.

Ketika "maaf" begitu sulit

“Jadilah manusia pemaaf”. 
Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya yang berbuat salah dan bertobat kepadaNya. Selalu saja itu yang selalu orang lain katakan untuk suatu pembenaran, atau memang untuk membenarkan perbuatan yang dilakukan. Yah, lagi-lagi kata “maaf” dan bukan sembarang kata biasa. 

Buat saya pribadi, begitu sulitnya memaafkan sesuatu yang sudah begitu menyentuh hal yang paling dalam yang ada di dalam diri ini, hingga saya pun pernah berujar bahwa saya tidak akan memaafkan perbuatan orang itu dan membawanya sampai saya mati. Sungguh, buruk sekali nilai dan pemahaman saya akan kata maaf. Saya tidak dan masih belum bisa mengerti arti itu. Dan bilapun seandainya memang saya telah memaafkan, tapi saya pun belum bisa melupakan dan tidak akan pernah mengikhlaskan, seumur hidup saya. Apakah bedanya itu?. 

Saya menjadi pengumpat yang menaruh sumpah serapah untuk seseorang yang memang telah begitu menyakiti hati saya dan itu berlangsung terus menerus. Air mata pun tidak dapat saya tahan mengingat dia dan segala bentuk hal-hal yang telah dia lakukan. Hal tersebut berimbas kepada diri saya pribadi. Saya menjadi pribadi yang begitu rendah diri dan bukan rendah hati, merasa diri ini adalah korban yang harus dikasihani, menjadi sosok yang amat sangat lemah. Begitulah saya, melemahkan diri saya dan terus menerus mengkasihani diri saya. 

Saya telah hidup hanya dengan sisi saya, sudut pandang diri saya yang merasa tersakiti, tanpa melihat sisi dan sudut lainnya untuk mendapatkan hal yang bermakna daripada hanya sekedar mengasihani diri dan meratapi yang terjadi. Bukankah dengan hidup seperti itu dan beralasan bahwa saya adalah korban yang terzolimi itu pun berarti saya masuk ke dalam orang yang sedang dan selalu berusaha mencari pembenaran yang hanya bersumber dari dalam diri sendiri? Dan jika saya tidak menyukai pembenaran akan hal itu, kenapa saya pun turut serta menerapkannya?.

Saya takut untuk keluar dari persembunyian saya untuk sekedar bisa menerima dan mengikhlaskan semua yang terjadi dan terus menerus hidup dalam rasa sakit dan perih, yang itu artinya, justru saya lah yang menzolimi diri ini. Saya lah yang secara tidak langsung menyakiti diri saya sendiri. Saya membiarkan diri dan pikiran saya terus menerus hidup dalam rasa kesakitan dan kebencian akan seseorang. Apa yang saya dapat dari itu semua? Hanya rasa sedih, tangis, kepiluan, marah dan emosi yang padahal saya pun mengetahui jika saya memilih mengiklaskan, maka kehidupan saya akan lebih baik dan bahagia. Bukankah sudah hakikat manusia untuk selalu menginginkan ketenangan dan kebahagian “lahir” dan “batin” bagi dirinya. 

Lebih dari satu tahun saya hidup dalam rasa itu. Saya begitu tidak lepas. Saya tidak menikmati kehidupan karena saya tahu, ada yang sangat mengganjal di dalam hati akan rasa kebencian dan sakit yang tinggi yang saya masih tetap simpat didalam diri saya. Ya Tuhan, begitu egois nya saya terhadap diri saya sendiri. Begitu egoisnya saya hingga saya “mensetting” hidup saya untuk menjalankan hal yang tidak sesuai dengan hati nurani saya. 

Sungguh, tidaklah enak menyimpan rasa kebencian dan kesedihan yang pernah terjadi dalam hidup. Itu hanya akan menyakiti diri kita. Kita membuat benteng tinggi dalam diri kita untuk tidak bisa memaafkan dan melupakan kesakitan yang kita rasakan atas perbuatan yang dilakukan orang lain terhadap kita. Benteng itu yang akan menyakiti diri kita. Benteng itu yang akan mebuat kita semakin lemah. Biarkanlah segala sesuatunya terjadi. Biarkan diri kita terus menerus belajar untuk ikhlas dan memafkan segla sesuatu yang terjadi sepahit apapun yang dihadapi. Kalian bisa mengatakan, memaafkan itu sulit, dan apa yang saya katakana mungkinlah tidak semudah tindakan. Tapi ketahuilah, hidup dalam bayang-bayang akan kebencian dan rasa penolakan untuk memaafkan jauh lebih sulit. Sesungguhnya segala sesuatunya pun kembali bagaimana kita menyikapi. Sayangilah diri kita sendiri. Bersikaplah adil terhadap diri kita. Memaafkan mungkin sulit, tapi membenci jauh lebih sulit untuk perjalanan hidup kita.

Ketika Hati mengeluh

Wahai diriku, berhentilah mengeluh. Berhentilah meratapi dirimu. Sungguh kau tak pantas di beri rasa iba jika kau hanya dapat mengeluhkan keadaan atas hidup mu. Jangan ratapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu yang tak kau sukai bagiannya. Kau hidup bukan untuk berkeluh kesah. Kau hidup untuk menikmati setiap bagiannya. Kau hidup untuk mengindahkan segala peristiwa yang ada. Kau hidup untuk mengambil hikmah atas semua. Bukan untuk berkeluh. 

Lantas mengapa kau berteriak. Mengapa kau bercerita kepada semua tentang ketidak baikan yang terjadi didalam hidupmu. Mengapa kau biarkan orang lain mengetahui keluhanmu. Mengapa kau buka aibmu terhadap yang lain. Kau tau keluhan itu indah. Kau tau bahwa keluhan itu hanya rasa ketidaksukaanmu akan sesuatu karena tidak sesuai dengan inginmu. Lantas mengapa kau harus berteriak kalau kau paham bahwa keluhanmu hanya karena keadaan yang tidak mendukung. 

Wahai diriku, indahkanlah semua proses hidupmu. Jika kau merasakan pahit akan suatu rasa makanan, jangan pernah berfikir bahwa itu karena makanan tersebut terasa pahit. Mungkin kan hanya lupa menyadari bahwa mungkin saja lidahmu sedang tidak peka untuk merasa manis. Dan andaikan memang karena memang rasa makanan itu memang pahit. Maka cukupkan bagimu untuk tetap menyimpan itu dalam lidahmu, tanpa perlu kau beritahu semua tubuhnya, karena kulit tidak akan pernah bisa merasakan pahit, begitu juga dengan mata. Dan tidak semua manusia paham akan detail keluhanmu, karena hanya kau yang tahu setiap persisnya apa yang terjadi, dan cukupkan hanya dirimu yang tahu.


Regards -RM-