Ketika "maaf" begitu sulit

“Jadilah manusia pemaaf”. 
Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya yang berbuat salah dan bertobat kepadaNya. Selalu saja itu yang selalu orang lain katakan untuk suatu pembenaran, atau memang untuk membenarkan perbuatan yang dilakukan. Yah, lagi-lagi kata “maaf” dan bukan sembarang kata biasa. 

Buat saya pribadi, begitu sulitnya memaafkan sesuatu yang sudah begitu menyentuh hal yang paling dalam yang ada di dalam diri ini, hingga saya pun pernah berujar bahwa saya tidak akan memaafkan perbuatan orang itu dan membawanya sampai saya mati. Sungguh, buruk sekali nilai dan pemahaman saya akan kata maaf. Saya tidak dan masih belum bisa mengerti arti itu. Dan bilapun seandainya memang saya telah memaafkan, tapi saya pun belum bisa melupakan dan tidak akan pernah mengikhlaskan, seumur hidup saya. Apakah bedanya itu?. 

Saya menjadi pengumpat yang menaruh sumpah serapah untuk seseorang yang memang telah begitu menyakiti hati saya dan itu berlangsung terus menerus. Air mata pun tidak dapat saya tahan mengingat dia dan segala bentuk hal-hal yang telah dia lakukan. Hal tersebut berimbas kepada diri saya pribadi. Saya menjadi pribadi yang begitu rendah diri dan bukan rendah hati, merasa diri ini adalah korban yang harus dikasihani, menjadi sosok yang amat sangat lemah. Begitulah saya, melemahkan diri saya dan terus menerus mengkasihani diri saya. 

Saya telah hidup hanya dengan sisi saya, sudut pandang diri saya yang merasa tersakiti, tanpa melihat sisi dan sudut lainnya untuk mendapatkan hal yang bermakna daripada hanya sekedar mengasihani diri dan meratapi yang terjadi. Bukankah dengan hidup seperti itu dan beralasan bahwa saya adalah korban yang terzolimi itu pun berarti saya masuk ke dalam orang yang sedang dan selalu berusaha mencari pembenaran yang hanya bersumber dari dalam diri sendiri? Dan jika saya tidak menyukai pembenaran akan hal itu, kenapa saya pun turut serta menerapkannya?.

Saya takut untuk keluar dari persembunyian saya untuk sekedar bisa menerima dan mengikhlaskan semua yang terjadi dan terus menerus hidup dalam rasa sakit dan perih, yang itu artinya, justru saya lah yang menzolimi diri ini. Saya lah yang secara tidak langsung menyakiti diri saya sendiri. Saya membiarkan diri dan pikiran saya terus menerus hidup dalam rasa kesakitan dan kebencian akan seseorang. Apa yang saya dapat dari itu semua? Hanya rasa sedih, tangis, kepiluan, marah dan emosi yang padahal saya pun mengetahui jika saya memilih mengiklaskan, maka kehidupan saya akan lebih baik dan bahagia. Bukankah sudah hakikat manusia untuk selalu menginginkan ketenangan dan kebahagian “lahir” dan “batin” bagi dirinya. 

Lebih dari satu tahun saya hidup dalam rasa itu. Saya begitu tidak lepas. Saya tidak menikmati kehidupan karena saya tahu, ada yang sangat mengganjal di dalam hati akan rasa kebencian dan sakit yang tinggi yang saya masih tetap simpat didalam diri saya. Ya Tuhan, begitu egois nya saya terhadap diri saya sendiri. Begitu egoisnya saya hingga saya “mensetting” hidup saya untuk menjalankan hal yang tidak sesuai dengan hati nurani saya. 

Sungguh, tidaklah enak menyimpan rasa kebencian dan kesedihan yang pernah terjadi dalam hidup. Itu hanya akan menyakiti diri kita. Kita membuat benteng tinggi dalam diri kita untuk tidak bisa memaafkan dan melupakan kesakitan yang kita rasakan atas perbuatan yang dilakukan orang lain terhadap kita. Benteng itu yang akan menyakiti diri kita. Benteng itu yang akan mebuat kita semakin lemah. Biarkanlah segala sesuatunya terjadi. Biarkan diri kita terus menerus belajar untuk ikhlas dan memafkan segla sesuatu yang terjadi sepahit apapun yang dihadapi. Kalian bisa mengatakan, memaafkan itu sulit, dan apa yang saya katakana mungkinlah tidak semudah tindakan. Tapi ketahuilah, hidup dalam bayang-bayang akan kebencian dan rasa penolakan untuk memaafkan jauh lebih sulit. Sesungguhnya segala sesuatunya pun kembali bagaimana kita menyikapi. Sayangilah diri kita sendiri. Bersikaplah adil terhadap diri kita. Memaafkan mungkin sulit, tapi membenci jauh lebih sulit untuk perjalanan hidup kita.

No comments:

Post a Comment