Tentang Dirinya

Kala harapan datang, hati bersenandung riang. Tertawa lepas. Bibir tak bisa lepas dari senyuman. Hati ini hanya bisa merasakan dia. Hati ini hanya bisa mendengar suaranya. Mata ini hanya ingin melihat dia. Dan diri ini hanya ingin selalu berada didekatnya. Bersamanya. 

Setiap waktu ku dapat merasa rindu datang hingga terkadang menyiksa. Ingin ada dia. Ingin memanggilnya. Ingin terus dapat melihat raut sosok wajahnya. Tak perduli dengan dimensi waktu. Tak perduli kami berada dimana. Aku hanya tau, kami saling merindu. 

Selalu disaat ku buka mata mengawali hari, dia selalu menjadi yang pertama hadir. Dipikiranku, didalam jiwaku, didalam relung hatiku. Aku bisa merasakan betapa saat itu diri ini begitu menginginkannya. Disetiap waktu. 

Aku tak perduli lagi. Aku hanya tau dia telah ada. Dia telah mengisi. Dan dia telah menghiasi. Dia telah datang dan menghadirkan dirinya. Dalam setiap gerakan nafasku, dalam setiap alam pikiranku. Dalam setiap waktuku, ku hanya dapat merasakan dia. Seolah dia adalah bagian dari pelengkap jiwa yang sedang kucari. 

Aku kenal dia. Aku inginkan dia. Tulus. Tanpa celah. Tanpa syarat. Dan aku hanya dapat memohon kepada hatiku, tolong imbangi rasa ini. Tolong pelihara dengan baik segala yang terasa. Dia menjadi segalanya yang merajai tiap waktuku. 

Dan ketika jauh darinya, hati terasa berat. Aku hanya ingin dekat dengannya. Waktu membuat aku menggila karena merindukannya. Memikirkannya. Aku ingin dekat. Aku ingin dia. Aku ingin berada dihadapannya selalu.  Ya Tuhan, aku semakin menggila dengan rasaku. Aku semakin tak berdaya. Aku semakin tak paham. Aku menjadi siapa? Tuhan, kau tau ini bukanlah aku. Aku tau, aku bukan sosok yang naïf hanya karena “rasa”. 

Aku sedang mabuk. Aku sedang berada dalam kegilaan cinta. Aku sedang berada dalam nikmat dunia. Aku memberi orang lain minum, dan aku pun turut meminumnya. Ini realitas. Aku hanya begitu kebingungan ketika aku menjadi dikuasai “rasa” ku. Lantas dimana sukmaku pergi? Kemana pikiran dan nalar logisku berada? Aku hanya ingin cinta. Tidak Tuhan. Ini sungguh abu-abu. Ini sungguh berat. Beban rasa sungguh tak dapat ku kendalikan dan ku genggam. Aku menyerah Tuhan. Aku lelah. Aku lemah. Aku kalah oleh “rasa”.

Ya Tuhan, aku sunggung-sungguh telah kalah. Aku sungguh-sungguh menyerah. Aku jatuh Tuhan. Aku sungguh kalah akan rasa yang kau namakan itu “cinta”. Dan aku masuk kedalamnya, tanpa pijakan, tanpa sandaran, tanpa membentengi diriku sebelumnya. Hati ini telah menagis karena “cinta. 

Entah selanjutnya bagaimana bisa berganti warna dengan begitu cepat. Namun, bukankah daun pun dapat gugur hanya dalam hitungan detik walau kita tau, betapa daun itu sangat mencitai induknya. Siapa yang mampu menebaik isi hati. Siapa yang mampu menguasai hati yang bukanlah milik nya. Dia telah mengambil pilihan dengan hak nya. 

Tuhan, akhirnya aku pun karam. Cahaya pun seolah telah padam. Tak ada lagi pelita. Tak ada lagi mimpi. Tak ada lagi asa. Dan tak ada lagi bahagia hati. Dia ingin pergi. Dia ingin lepas. Dia ingin kembali ke dalam benteng hidupnya. Dirinya ingin kembali kepada dia yang sebelumnya. Sungguh ku tak paham. Tak mengerti dan tak tau harus berkata apa lagi. 

Aku tak terima. Aku marah. Aku sedih. Aku gamang. Aku emosi. Aku menangis. Aku terus berteriak sambil memanggil namanya dan bertanya dalam sendiriku, kenapa kau pilih ini. Kenapa kau ingin begini. Kenapa dari awal kau tak peringati aku akan hal ini. Dan aku terus menerus terpaku dengan laraku dan sedihku untuk waktu yang tak tahu entah berapa lama untuk pulih dan kembali. 

Ku jalani semua. Menikmati alur yang ada. Hidup memang harus terus kujalani. Hidup memang terus akan berlanjut selama aku masih memiliki kehidupan. Dan aku belajar untuk nya. Aku berlajar karena nya, dan aku mulai paham karena nya. Dia telah menjawab semua Tanya ku dengan kebisuannya. Dia telah menunjukan siapa dirinya dengan diamnya. Dia telah menunjukan hakikat makna hidup kepadaku dengan jiwanya. 

Dia ingin hidup. Dia ingin menjadi dirinya yang apa adanya. Dia ingin menjalani semuanya sesuai dengan apa yang telah ia kerjakan dan lakukan. Dia ingin menjadi paham. Dia ingin menikmati bagian dari setiap ritme hidupnya dengan jiwanya. Dia ingin menjadi dia yang seutuhnya. Menjadi dirinya sesuai dengan jati diri yang ada dalam dirinya. 

Dan aku. Rajutan hidupku biarlah terus kukembangkan menjadi hal yangseharusnya. Aku memang sepantasnya menjalankan apa yang memang harus kukerjakan. Membuka kembali PR ku yang lama untuk kembali belajar kehidupan. Dan kembali mengolah intisari dari setiap pergerakan yang telah kudapat selama ini, dengan atau pun tanpa nya. Aku hanya perlu membuka diriku lagi. Untuk jiwaku. Untuk ragaku. Untuk Tuhanku. 

Senja mungkin datang dan mentari tenggelam. Namun esok, sang mentari akan terbit kembali membwa kehangatan dan senyuman akan makna hari-hari yang terus dan akan selalu kulewati.. Tuhan, ku tau mentari ku adalah Engkau, dalam diriku…..

Ragards, -RM-

No comments:

Post a Comment