Paparan Diri

Dan ketika apa yang kau rasa sudah mulai samar. Rasa sulit membedakan atau mungkin memahami arti semua yang ada dihadapan. Semua terasa hilang dan memang sudah tidak lagi bisa di raih. Lalu bagaimana dengan mimpi dan asa yang tersisa akan rasa ini. Bagaimana dengan jiwa yang ada ini. Bagaimana harus ku sampaikan kepada jiwaku bahwa dirinya harus tersadar dan bangkit kembali untuk menemukan kembali secercah harapan dan mimpi. 

Jangan kejar lagi… 

Hentikan laju langkah kaki. Penat mungkin tak akan pernah sirna ketika nafas masih terus ada dalam tubuh ini. Rasa kegamangan akan sebuah arti dari setiap proses yang dialami sungguh sulit untuk di ungkap. Bagaimana harus dikupas, mata saja seolah jera untuk melihat dan telinga sudah tak ingin mendengar. Untuk siapa gamang jiwaku ini. 

Lelah ku sungguh ada 

Ritme hidup yang selalu begini dan begini. Para tokoh-tokoh yang selalu berperan dengan karakter-karakter yang tak kupahami. Serta alur yang sungguh tiada ku mengerti. Aku berperan apa. Lantas mereka berperan sebagai siapa. Wahai Sutradara, aku sungguh butuh arahan dari Mu untuk mejadikan kualitas peran ku sempurna.

Mereka semua siapa ??

Ku tetap berdiri tegar disini. Ditengah hingar binger manusia yang terus menerus “hidup” dengan hidupnya. Di tengah denyut nadi kehidupanku yang menginginkan k uterus berdiri tegak untuk bertahan dan harus kuat. Semua mungkin berteriak keras ditelinga ini. Semua bahkan mungkin juga menatap sinis akan diri ini. Kalian siapa? Kalian mau apa? Kenapa kalian hanya menaruh hormat dan simpati hanya kepada sosok yang berpakaian bagus dengan symbol kemewahan. Kenapa banyak orang hanya ingin tersenyum pada sosok yang berkilauan. 

Terus bergerak 

Aku tidak lagi perduli aku sudah berdiri dimana. Aku sudah tidak lagi perduli pelengkap dijalanku siapa. Aku hanya tau, aku sedang berjalan dan harus terus berjalan kedepan melangkah.

No comments:

Post a Comment